Ditengah menurun dengan
tajamnya harga cabai rawit akhir-akhir ini setelah harga puncak tertingginya di
awal Tahun 2017, komoditas cabai rawit masih tetap menarik untuk diusahakan di
Kabupaten Badung.
Karakteristik
Komoditas
Cabai Rawit (Capsicum frutescens L). merupakan salah satu komoditas hortikultura yang
memiliki nilai ekonomi tinggi (high
economic value commodity). Kandungan gizi yang cukup tinggi dan berbagai
senyawa khas seperti Capsaicin,
Lasparaginase dan antioksidan lainnya serta yang memberi rasa pedas juga
berguna bagi kesehatan manusia membuat cabai rawit banyak digunakan untuk
berbagai keperluan. Manfaat paling penting bagi kalangan rumah tangga adalah sebagai
bahan penyedap berbagai masakan. Cabai rawit juga sering digunakan sebagi bahan
baku industri makanan seperti pada perusahaan mie instan, perusahaan makanan
dan perusahaan sambal. Minyak atsiri yang terkandung dalam cabai rawit sangat
bermanfaat sebagai bahan baku obat-obatan untuk mengendalikan berbagai keluhan
seperti pegal-pegal, sesak nafas, obat kuat dan berbagai penyakit lainnya.
Walaupun diperlukan dalam jumlah sedikit, namun setiap hari dibutuhkan oleh
hampir seluruh penduduk Indonesia sehingga
tidak mengherankan jika volume peredarannya dipasaran sangat besar. Walaupun
volumenya sangat besar dan dibutuhkan oleh semua kalangan, sampai sekarang
harga cabai rawit belum pernah mantap. Dibeberapa daerah sentra, harga cabai rawit berubah
hampir setiap waktu, tergantung jumlah pasokan dan permintaan (supply and demand).
![]() |
Gambar 1. Tanaman Cabai Rawit |
Untuk meningkatkan nilai tambah
produk cabai rawit dan untuk mengantisipasi gejolak harga, maka petani
didaerah sentra biasanya melakukan pergiliran tanaman dan melaksanakan
penanaman diluar musim (off season). Tanaman cabai rawit dapat diusahakan di lahan sawah dan lahan
kering/tegalan. Pada lahan sawah irigasi cabai rawit umumnya diusahakan setelah
tanaman padi, sehingga pola tanamnya dipengaruhi oleh pertanaman padi yang
dipengaruhi oleh kondisi iklim terutama curah hujan. Namun usaha cabai rawit masih dilakukan dalam skala kecil
dan dilakukan lebih banyak oleh wanita tani. Tanaman cabai rawit termasuk tanaman semusim atau
tanaman berumur pendek. Batang cabai tumbuh tegak berwarna hijau tua dan berkayu serta mempunyai cabang berjumlah banyak. Pada ketinggian tertentu akan membentuk percabangan seperti huruf “Y”. Ketinggian
tanaman bisa sampai 150 cm dengan lebar
tajuk tanaman sampai 90 cm.
Agroklimat
Cabai rawit dapat tumbuh
baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi yaitu dari 0 – 1.250 meter di
atas permukaan air laut, namun pertumbuhan yang optimal dan dapat berproduksi
tinggi apabila ditanam pada ketinggian 0 – 500 meter di atas permukaan air laut,
suhu yang dikehendaki berkisar 25oC – 31oC dengan kelembaban relatif 80%. Tanaman ini bisa tumbuh pada segala
jenis tanah, namun tanaman cabai rawit ini paling cocok hidup di tanah lempung
berpasir, gembur, subur atau banyak mengandung unsur hara dan berdraenasi baik. Derajat keasaman (pH) yang paling ideal untuk tanaman cabai rawit berkisar 6 – 7.
Jenis dan Variasi Produk
Tanaman cabai rawit mempunyai banyak jenis dan variasi
produk. Beberapa jenis cabai rawit
yang sering diusahakan antara lain.
1. Cabai Kecil atau Cabai Jemprit. Cabai jenis ini buahnya kecil dan
pendek, lebih pedas dibandingkan janis cabai lainnya.
2. Cabai Putih atau Cabai Domba.
Buahnya lebih besar dari cabai jemprit atau cabai celepik, dan rasanya kurang
enak.
3. Cabai Celepik. Buah cabainya lebih
besar dari pada cabai jemprit dan lebih kecil dari cabai domba. Rasanya tidak
sepedas cabai jemprit. sewaktu muda berwarna hijau setelah masak berwarna merah
cerah.
Pada umumnya buah dijual
dalam bentuk segar, namun demikian beberapa industri kecil rumah tangga sudah
mulai ada yang memasarkan dalam bentuk cabai kering atau cabai giling bahkan beberapa
perusahaan bahan makanan menjual dalam bentuk olahan seperti sambal untuk
mendapatkan nilai tambah yang lebih besar.
Permasalahan Komoditas
Permasalahan utama budidaya tanaman cabai rawit yaitu adanya serangan
hama penyakit, penggunaan benih yang kurang terseleksi, pemeliharaan tanaman yang
belum optimal serta terbatasnya permodalan pelaku usaha. Disamping
itu fluktuasi harga musiman yang terjadi hampir setiap tahun dan tidak
menentu menjadi kendala
untuk dapat memetik keuntungan. Dari kebiasaan yang terjadi harga cabai pada
musim kemarau selalu murah. Sebaliknya, harga pada musim penghujan bisa lebih
berlipat-lipat. Hal itu disebabkan karena pada musim penghujan jarang petani
yang berani menanam cabai. Jika ada yang menanampun, banyak yang mengalami
gagal panen karena terserang berbagai hama dan penyakit yang kebanyakan disebabkan oleh hama lalat buah dan
penyakit yang disebabkan oleh cendawan dan bakteri. Akibatnya persediaan
(stock) produk menjadi terbatas dan memicu naiknya harga cabai. Kenaikan harga
bisa juga terjadi karena proses distribusi yang bermasalah.
Potensi Komoditas
Luas Areal dan Produksi
Luas panen cabai rawit di Kabupaten Badung selama
lima tahun terakhir, yaitu dari tahun 2011 hingga tahun 2015 cenderung
mengalami peningkatan. Luas panen tertinggi terjadi pada tahun 2015 seluas 69
hektar dengan produksi 405,4 ton atau produktivitasnya mencapai 5,88 ton/hektar.
Produksi cabai rawit tertinggi dicapai pada tahun 2012 sebesar 595,0 ton dengan
produktivitas mencapai 19,83 ton/hektar dan merupakan produktivitas terbaik
selama lima tahun di atas. Produktivitas rata-rata selama lima tahun adalah 9,76 ton/hektar.
Sentra Produksi, Kalender Panen,
dan Pemasaran
Mengingat daya adaptasi cabai
rawit yang cukup luas, maka pertanaman cabai
rawit di daerah Badung dapat
diketemukan di semua Kecamatan, akan
tetapi sentra utamanya berada di Kecamatan
Petang, Mengwi
dan Abiansemal.
Penanaman cabai
rawit bisa dilaksanakan baik dimusim
penghujan maupun dimusim kemarau dan bisa di panen sampai ± 12
kali selama masa pertumbuhan, sehingga saat panen atau kalender panen cabai di daerah Badung hampir bisa ditemukan setiap waktu, dengan puncak
panen/panen rayanya terjadi antara bulan Juni, dan Oktober.
Dalam pemasarannya produk cabai rawit dapat dijual
dalam bentuk segar maupun cabai kering
ataupun cabai
giling. Produksi yang berlebihan
biasanya diatasi dengan melakukan penjemuran untuk mendapatkan cabai kering, juga
dengan menggiling menjadi cabai
giling.
Prospek Investasi
Kelayakan Usaha
![]() | |
Gambar 2. Cabai Rawit |
Usaha tani cabai rawit adalah usaha
yang sangat menguntungkan di Kabupaten Badung, bahkan dalam analisa penulis pada
bulan September 2016 hingga Maret 2017 tingkat ROI ( Return of Investment ) atau pengembalian modalnya adalah sekitar 796,37%,
dengan Break Event Point (BEP) Rp 5.392,10
dan B/C ( Benefit Cost Ratio ) 7,96,
sebuah analisa yang sangat layak untuk dikembangkan menjadi usaha yang nyata. Sementara
harga cabai rawit akhir-akhir ini (akhir bulan Desember 2017 hingga awal bulan
Januari 2018) di pasar-pasar tradisional di Kabupaten Badung sekitar Rp
40.000,- masih di atas harga Break Event
Point (BEP). Untuk mencapai sukses berusaha tani cabai rawit, maka teknologi
produksi perlu dikuasai dengan baik, dengan demikian tidak ada investor yang
merasa dirugikan dengan mempunyai tenaga kerja yang terampil dan berpengalaman.
Peluang Pasar
Cabai rawit merupakan
komoditas sayuran yang sangat merakyat, semua orang memerlukannya. Tak heran
bila volume peredaran dipasaran sangat banyak jumlahnya, mulai dari pasar
rakyat, pasar swalayan, warung pinggir jalan, restoran kecil hingga hotel
berbintang sehari harinya membutuhkan cabai dalam jumlah yang tidak sedikit. Kebutuhan cabai rawit baik di pasar lokal maupun
pasar ekspor yang tidak pernah bisa terpenuhi oleh para petani serta harga yang
menggiurkan merupakan peluang pasar yang sangat potensial.
Prospek Investasi
Kegiatan investasi yang prospektif adalah pengembangan
budidaya cabai rawit varietas unggul. Tahun 2018 Kabupaten Badung dalam upaya
pengendalian inflasi daerah mencanangkan program pengembangan cabai rawit
seluas 50 hektar tersebar diberbagai desa di Kecamatan Petang, Mengwi dan Abiansemal.
Kegiatan investasi lain adalah perbaikan teknologi produksi, penanganan pasca panen/grading, pemasaran dan membangun kerjasama dengan mitra usaha.
Semoga upaya
pengembangan budidaya cabai rawit sebagai komoditi penyumbang inflasi ini dapat
menekan laju inflasi daerah dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani di
Kabupaten Badung.