![]() |
Budidaya Kacang Tanah Di Kabupaten Badung |
Karakteristik Komoditas
Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) di Indonesia merupakan komoditas pertanian terpenting setelah kedelai
yang memiliki peran strategis pangan nasional sebagai sumber protein dan minyak
nabati. Kandungan gizi kacang tanah antara lain yaitu; lemak 40-50%, protein
27%, karbohidrat 18%, dan vitamin. Namun di Bali komoditas kacang tanah dapat
dikategorikan sebagai komoditas andalan, karena disamping banyak dikonsumsi
oleh masyarakat sebagai menu pelengkap kuliner khas utama Bali seperti ayam
betutu dan pelecing juga digunakan sebagai bahan campuran makanan seperti roti
dan bahan baku industri. Daun dan batang kacang tanah dapat digunakan untuk
makanan ternak yang tinggi nilai gizinya, demikian pula bungkil kacang tanah
sebagai hasil sampingan dalam pembuatan minyak kacang dapat digunakan makanan
ternak, sehingga permintaannya cenderung meningkat. Adanya peningkatan
permintaan kacang tanah, maka harganya juga cenderung meningkat. Untuk
mengantisipasi terjadinya lonjakan harga perlu dilakukan berbagai upaya untuk
meningkatkan penyediaan maupun distribusinya. Adapaun jenis kacang tanah yang
banyak diusahakan petani di daerah Bali adalah varietas Kelinci dan Panther,
namun demikian jenis-jenis kacang lokal juga tetap diproduksi untuk memenuhi
kebutuhan beberapa perusahaan industri kacang olahan.
Agroklimat
Kacang tanah tumbuh dengan baik pada iklim kering. Suhu sangat
berpengaruh terhadap perkecambahan biji dan pertumbuhan awal. Bila suhunya di
bawah 18 0C, laju perkecambahan rendah dan pertumbuhan tanaman
akan terhambat bahkan kerdil. Pertumbuhan optimal bagi kacang tanah yaitu pada
suhu udara sekitar 28 – 32 0C. Jumlah dan distribusi curah
hujan sangat berpengaruh terhadap produksi. Hujan yang cukup pada saat tanam
sangat dibutuhkan agar tanaman dapat berkecambah dengan baik. Demikian pula
distribusi hujan yang merata selama periode pertumbuhan akan menjamin keberhasilan
pertumbuhan vegetatif. Hujan yang terlalu keras akan mengakibatkan bunga sulit
terserbuki oleh serangga dan akan meningkatkan kelembaban di sekitar pertanaman
kacang tanah. Curah hujan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman kacang tanah
antara 800 – 1.300 mm/tahun. Kelembaban tanah yang cukup pada fase awal
prtumbuhan, fase berbunga dan fase pembentukan polong sangat penting untuk
mendapatkan produksi tinggi. Kelembaban udara yang dikehendaki berkisar 65 – 75
%, dengan penyinaran matahari penuh. Penyinaran matahari ini dibutuhkan
terutama bagi kesuburan daun dan perkembangan besarnya kacang.
Kacang tanah tidak terlalu memilih jenis tanah. Pada tanah berat
seperti tanah/lahan sawah yang umumnya Aluvial dan Regosol masih dapat
menghasilkan jika pengolahan tanahnya dilakukan dengan baik. Demikian pula pada
lahan kering seperti Podzolik Merah Kuning dan Latosol yang memang sangat
sesuai untuk pertumbuhan dan produksi kacang tanah dengan kemiringan tanah
kurang dari 8%. Tetapi tekstur tanah yang optimal untuk pertumbuhan kacang
tanah adalah tanah gembur/bertekstur ringan dan subur. Ketinggian tempat yang
optimum untuk pertumbuhan kacang tanah adalah 50 – 500 m dpl, tetapi masih
dapat tumbuh di bawah ketinggian 1.500 m dpl. Kacang tanah juga mampu tumbuh dengan
baik pada tanah masam (pH 5,0), tetapi peka terhadap tanah basa. Kemasaman (pH)
tanah yang ideal bagi kacang tanah berkisar antara 6,0 – 7,0. Pada pH tanah
antara 7,5 – 8,0 daun akan menguning dan terjadi bercak hitam pada polong. Pada
kondisi demikian kualitas dan kuantitas produksi polong akan menurun.
Kekurangan air akan menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu dan akhirnya mati,
sehingga diperlukan adanya drainase dan aerasi yang baik, lahan tidak terlalu
becek dan kering baik bagi pertumbuhan kacang tanah.
Jenis dan Variasi Produk
Kacang tanah mempunyai daerah adaptasi yang luas, asalkan tanah
dan iklimnya cocok serta ketinggian dan panjang hari tidak terlalu berbeda.
Oleh karena itu varietas unggul apa saja dapat ditanam di seluruh Indonesia
bahkan varietas unggul kita yang bernama “Macan” banyak ditanam di Malaysia,
Thailand dan Philipina. Kacang tanah yang banyak diusahakan petani di daerah
Bali adalah varietas Kelinci dan Panther, namun demikian jenis-jenis kacang
lokal juga tetap diproduksi untuk memenuhi kebutuhan beberapa perusahaan
industri kacang olahan.
Produksi kacang tanah biasanya dijual dalam bentuk polong atau
biji kering, selanjutnya dapat diolah menjadi berbagai produk olahan seperti
kacang asin, kacang kapri, rempeyek kacang, enting kacang, selai kacang, bumbu
pecel, dan bahan campuran makanan lainnya seperti untuk roti serta bahan baku
industri.
Permasalahan Komoditas
Produktivitas kacang tanah berbagai daerah di Indonesia rata-rata
dikategorikan masih rendah, demikian pula di Kabupaten Badung . Rendahnya
produktivitas tersebut disebabkan karena penerapan teknologi budidaya belum
dilakukan dengan baik, diantaranya adanya keragaman cara pengelolaan tanaman,
termasuk perbedaan waktu tanam, cara tanam, penyiangan gulma, pemupukan, pengendalian
hama dan penyakit. Disamping itu adanya perbedaan faktor abiotik dan biotik
menyebabkan produktivitas kacang tanah berbeda untuk masing-masing daerah.
Secara umum faktor abiotik dan biotik yang mempengaruhi pertumbuhan,
perkembangan tanaman dan produksi kacang tanah adalah sebagai berikut.
1. Pematusan (drainase) jelek.
2. Tanaman sering mengalami kelebihan air pada awal
pertumbuhan atau kekeringan pada akhir musim kemarau untuk lahan sawah dan
kekeringan pada fase akhir pertumbuhan tanaman untuk lahan kering.
3. Kekurangan unsur hara utama (N, P, K, Ca).
4. Persaingan dengan gulma pada fase pertumbuhan
vegetatif, penyiangan jarang dilakukan dan apabila dilaksanakan sering
terlambat.
5. Pengolahan tanah dangkal (10–15 cm) dan masih
kurang sempurna sehingga pembentukan akar dan perkembangan polong menjadi tidak
optimal.
6. Benih yang digunakan masih asalan (bukan benih
bersertifikat), kadang daya tumbuh rendah kurang dari 80% sehingga keragaan
tanaman sangat bervariasi. Seringkali populasi tanaman melebihi jumlah
optimalnya sehingga jumlah benih yang digunakan dapat lebih dari 100–110 kg
biji/ha.
7. Serangan penyakit khususnya penyakit layu
bakteri dan layu jamur, karat dan bercak daun, dan virus belang Peanut Stripe
Virus (PStV), serta serangan hama tikus, kutu kebul, ulat pemakan daun,
penggerek polong dan nematoda, masih belum dikendalikan dengan bijaksana.
Sementara itu pemasaran kacang tanah umumnya masih dilakukan
secara individu dalam bentuk polong atau biji tanpa persyaratan kualitas
sehingga harga komoditas kacang tanah menjadi rendah
Potensi Komoditas
Luas Areal dan Produksi
Luas tanam kacang tanah di Kabupaten Badung, Provinsi Bali pada
tahun 2018 (Januari-Desember) dilahan sawah dan lahan kering adalah 165,0 ha,
dengan luas panen 156,0 ha. Total produksi yang dicapai sebanyak 312 ton,
sehingga produktivitasnya rata-rata mencapai 20,0 ku/ha.
Sentra Produksi, Kalender Panen, dan Pemasaran
Walaupun kacang tanah diusahakan hampir diseluruh daerah di
Kabupaten Badung, namun lokasi sentranya saat ini berada di Kecamatan Petang.
Pada umumnya kacang tanah ditanam pada saat musim penghujan
(sekitar bulan November-Desember) sehingga panen terjadi sekitar bulan
Pebruari-Maret. Penanaman yang dilakukan pada pertengahan musim kemarau
(Agustus dan September) akan melakukan panen pada bulan Oktober-Desember, pada
kondisi tersebut produksinya lebih rendah karena pengaruh musim.
Produksi kacang tanah biasanya dipasarkan dalam bentuk kacang
polong atau biji kering. Belum banyak lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat
dalam pemasaran kacang tanah, umumnya para petani menjual sendiri ke pasar
tradisional terdekat atau pedagang pengumpul (musiman) yang datang ke desa.
Prospek Investasi
Kelayakan Usaha
Dari analisis rasio keuangan dan kelayakan usaha diperoleh hasil
yang menguntungkan dan layak untuk diusahakan, yang ditunjukkan oleh rasio
profitabilitas utamanya ROI (Return of Investment) sebesar 238,83%, serta kriteria kelayakan
yaitu Break Event Point (BEP) Rp 1.046,76 dan B/C ratio positip sebesar 1,39.
Peluang Pasar
Berdasarkan informasi pasar komoditi tanaman pangan dan
hortikultura Kabupaten Badung, harga komoditas kacang tanah ditingkat produsen
pada tahun 2018 bervariasi. Harga tertinggi kacang tanah polong dan kacang
tanah kupas terjadi pada bulan Mei-Juni masing-masing sebesar Rp 3.750,-/Kg dan
Rp 9.685,-/Kg. Sedangkan harga terendah pada bulan Oktober masing-masing dengan
harga Rp 2.500,-/Kg (Kacang tanah polong) dan Rp 6.450,-/Kg (kacang tanah
kupas). Tingginya harga komoditas ini disebabkan produksi pada bulan tersebut
sedikit dan tidak ada pasokan dari luar, sedangkan permintaan konsumen tetap
tinggi sehingga peluang pasar komoditas ini dapat dikatakan masih terbuka
lebar.
Prospek Investasi
Kegiatan investasi yang prospektif adalah perluasan areal
petanaman dengan perbaikan teknologi produksi, pengembangan penangkar benih
kacang tanah, pengolahan hasil dan membangun kemitraan usaha dalam pemasaran
kacang tanah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar