Sabtu, 13 September 2014
MARI GENJOT PRODUKSI DAN KUALITAS KEDELAI
Jumat, 05 November 2010
PENINGKATAN PRODUKSI KEDELAI (LAPORAN STUDI PARALEL SL-PHT PADA SUBAK KEDAMPANG)
Rata-rata produksi kedelai yang dicapai di Indonesia dari tahun ke tahun berkisar 60% dari potensi hasil kedelai. Rendahnya hasil kedelai yang dicapai tersebut umumnya dikarenakan penerapan teknologi usahatani yang kurang tepat. Keadaan ini dijumpai pula di Subak Kedampang. Dimana produksi pada tingkat petani berkisar 672 kg/ha pada hal potensi produktivitas kedelai varietas wilis mencapai 1.620 kg/ha. Oleh karena itu setiap PPL yang bertugas dan mengadakan pendampingan petani memiliki cita – cita ingin mewujudkan suatu kondisi pertanian yang maju dan terciptanya petani sejati.
Terbatasnya permodalan petani dan anggaran pemerintah sangat menentukan tingkat keberhasilan pencapaian tujuan diatas. Oleh karena itu penerapan teknologi minimum input menjadi hal yang terpenting dari petugas untuk meningkatkan hasil usahataninya. Hasil penerapan teknologi minimum input terhadap komoditi kedelai melalui perbaikan jarak tanam dan pengawasan setiap minggu selama pertumbuhan tanaman kedelai memberi hasil rata-rata sebesar 937,6 kg/ha. Pendekatan metoda ini akan tetap diupayakan petugas agar hasil usahatani dapat tercapai secara optimal dan menguntungkan petani.
Untuk lebih mempercepat proses transfer teknologi kepada petani maka perlu adanya kegiatan Sekolah Lapang (SL). Kegiatan SL-PHT merupakan metoda penyuluhan yang sangat membantu petugas di dalam mempercepat pencapaian pertanian yang maju dan terciptanya petani sejati.
Kegiatan ini merupakan kajian yang bertujuan disamping untuk meningkatkan produktivitas kedelai, juga sebagai sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam berusahatani kedelai, peningkatan wawasan dan pengalaman petugas serta bahan informasi dan penyuluhan untuk kelompok kelompok petani lainnya.
Teknologi anjuran yang digunakan dalam kajian ini adalah: a) menggunakan pupuk Urea, SP-36 dan KCl masing-masing dengan dosis 50 kg/ha, 100 kg/ha dan 50 kg/ha digunakan sebagai pupuk dasar, b) pengolahan zero tillage, habis panen tanaman padi, c) menggunaan PPC dan Obot-obatan tergantung keadaan pertanaman dilapangan, d) pengamatan terhadap perkembangan tanaman dan hama/penyakit dilakukan setiap minggu selama pertumbuhan tanaman. Kejadian-kejadian dilapangan diselesaikan berdasarkan pertimbangan petani
Pengkajian ini dilakukan di Subak Kedampang, Desa Kerobokan Kelod, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan Perlakuan Jarak Tanam yaitu: Jarak Tanam 40 cm x 10 cm (JT1), Jarak Tanam 20 cm x 20 cm (JT2) dan Sebar (JT0). Perlakuan di ulangan 3 (tiga) kali. Varietas kedelai yang digunakan dalam pengkajian adalah Varietas Wilis.
Hasil pengkajian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata hasil kedelai terhadap jarak tanam yang dicoba. Secara statistik hasil terbaik diperoleh pada perlakuan Jarak Tanam 40 cm x 10 cm dan 20 cm x 20 cm masing-masing meningkat sebesar 58,82% dan 54,54% disbanding dengan tanam sebar. Tidak ada berbedaan nyata antara Jarak Tanam 40 cm x 10 cm dengan Jarak Tanam 20 cm x 20 cm. Dengan harga kedelai sebesar Rp 2.500,- per Kg, maka keuntungan bersih yang diperoleh dari perlakuan jarak tanam 40 cm x 10 cm dan 20 cm x 20 cm masing – masing sebesar Rp 1.042.500,- dan Rp. 1.002.500,-. Analisis financial menunjukkan bahwa B/C ratio kedua perlakuan jarak tanam yaitu Jarak Tanam 40 cm x 10 cm adalah 0,607 dan Jarak Tanam 20 cm x 20 cm adalah 0,584 dari sisi usahatani kedua perlakuan diatas layak untuk dilaksanakan.
Pengkajian ini mendapat respon positif dari peserta dan tokoh-tokoh masyarakat di Kelurahan Kerobokan Kelod terhadap berlangsungnya kegiatan Sekolah Lapang ini. Kegiatan sejenis akan diusulkan oleh masyarakat dalam musyawarah pembangunan tingkat desa tahun depan.
Jumat, 02 Oktober 2009
Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Kedelai di Kabupaten Badung
ABSTRAK
by : Jarek Putradi
Pengembangan usahatani kedelai saat ini sedang dihadapkan pada persaingan pasar yang semakin terbuka akibat perkembangan globalisasi ekonomi dunia. Sebagai implikasinya, maka pengembangan komoditas kedelai sebaiknya dikonsentrasikan pada daerah-daerah yang memiliki keunggulan komparatif untuk usahatani tersebut.
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis keunggulan komparatif komoditas kedelai dilihat dari domestic resource cost (DRC), menganalisis kebijakan pemerintah berkenaan dengan proteksi kepada produsen komoditas kedelai ditinjau dari effective protection coefficient (EPC), dan menganalisis kepekaan domestic resource cost dan effective protection coefficient terhadap kemungkinan adanya perubahan kondisi yang akan terjadi dalam jangka pendek.
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Mengwi dan Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Pengambilan sampel ditentukan secara purposive sampling. Responden yang dipilih sebanyak 40 orang petani yang biasa melaksanakan usahatani kedelai dengan penanaman secara tugal dan sebar (mostly doing) di lokasi tersebut (modus). Analisis data dilakukan dengan menggunakan matriks analisis kebijakan (Policy Analysis Matrix=PAM)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas kedelai baik ditanam secara tugal maupun sebar di Kabupaten Badung memiliki keunggulan komparatif, nilai domestic resource cost (DRC) lebih kecil dari 1, masing-masing sebesar 0,84 dan 0,86. Rasio ini menandakan faktor domestik digunakan secara efisien. Dampak kebijakan pemerintah berkenaan dengan proteksi kepada produsen ditinjau dari effective protection coefficient (EPC) menunjukkan bahwa nilai EPC usahatani kedelai tersebut memberi nilai lebih besar dari satu, yaitu 1,10. Nilai ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, baik petani maupun sistem komoditas di Kabupaten Badung diproteksi sebesar 10 %. Adanya kebijakan terhadap output dan input secara keseluruhan menguntungkan petani dan sistem komoditas, karena nilai tambah dalam nilai finansial lebih besar dari nilai tambah dalam nilai sosial. Nilai DRC dan EPC peka terhadap perubahan harga output dalam nilai finansial, penurunan tarif impor kedelai, kenaikan biaya transportasi, penurunan produksi, dan nilai tukar.
Adanya keunggulan komparatif yang cukup baik, sehingga komoditas kedelai seyogyanya tetap dilaksanakan sebagai kegiatan ekonomi yang layak untuk dikembangkan. Keberhasilan pengembangan dapat ditunjang dengan beberapa kebijakan dilaksanakan secara terpadu antara lain: (a) meminimumkan biaya input tradabel; (b) melakukan regulasi impor, distribusi benih dan pupuk, tarif impor pestisida serta pajak distribusi lokal; dan (c) mempertahankan kebijakan subsidi terhadap output dalam nilai finansial, meningkatkan efisiensi pemasaran, dan meningkatkan produktivitas kedelai.
Kata Kunci: Keunggulan Komparatif, Kebijakan Pemerintah dan Kedelai
