Tampilkan postingan dengan label Policy Analysis Matrix (PAM).. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Policy Analysis Matrix (PAM).. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Mei 2012

DAMPAK KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNGGULAN KOMPETITIF USAHATANI PADI DI KABUPATEN TABANAN

Hingga tahun 2009 subsidi pupuk masih mengalami peningkatan. Besarnya dana subsidi pupuk tersebut 17,3 triliun rupiah. Melihat besarnya dana yang dikucurkan untuk subsidi pupuk tersebut, maka dengan alasan pembengkakan APBN dan demi tujuan fiscal sustainability, pemerintah menurunkan anggaran subsidi pupuk pada tahun 2010 menjadi 11,3 triliun rupiah atau turun sebesar 34,68 persen. Alasan lain penurunan anggaran subsidi pupuk oleh pemerintah adalah kenaikan harga bahan baku pupuk yang memang didominasi oleh bahan-bahan impor serta dikarenakan adanya kenaikan harga gas. Hal ini jelas akan berdampak kurang baik kepada petani. Padahal kebutuhan pupuk untuk pertanian pada tahun 2010 diperkirakan akan mengalami peningkatan. Jika tidak diikuti dengan kebijakan lain yang mendukung akibat penurunan subsidi pupuk, dapat dipastikan kesejahteraan petani Indonesia akan semakin terpuruk. Hal ini dikarenakan peningkatan produksi padi masih erat kaitannya dengan penggunaan pupuk yang berimbang.
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis keunggulan kompetitif usahatani padi sawah sebagai dampak dari subsidi pupuk di Kabupaten Tabanan. Penelitian ini dilakukan di seluruh kecamatan kabupaten Tabanan dengan masing-masing subak terluasnya, pada tahun 2011. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive sampling. Penentuan populasi dalam penelitian ini menggunakan metode purposive random sampling. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 98 orang. Jumlah sampel tersebut selanjutnya diambil secara proportional random sampling. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan metode PAM (Policy Analysis Matrix).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keuntungan finansial usahatani padi sawah pada musim kemarau di Kabupaten Tabanan sebesar Rp 5.625.704,23/ha dengan nilai PBCR = 1,40, sedangkan keuntungan finansial pada musim hujan sebesar Rp 5.802.663,42 /ha dengan nilai PBCR = 1,39, atau terjadi perbedaan keuntungan relatif tipis yakni sebesar 3,15 %. Sedangkan keuntungan ekonomi usahatani padi sawah pada musim kemarau sebesar Rp 3.052.706,47/ha dan musim hujan sebesar Rp 1.234.146,40/ha, dengan nilai SBCR masing-masing 1,28 dan 1,08.
Usahatani padi sawah di Kabupaten Tabanan memiliki keunggulan kompetitif, karena besarnya rasio biaya privat (PCR) untuk sistem usahatani padi sawah pada musim kemarau dan musim hujan masing-masing adalah 0,70 dan 0,69. Disamping itu usahatani padi sawah juga memiliki keunggulan komparatif karena rasio sumberdaya domestik (DRC) pada musim kemarau dan musim hujan adalah 0,76 dan 0,92.
Dampak kebijakan subsidi pupuk pada usahatani padi sawah di Kabupaten Tabanan adalah sebagai berikut:
a.       Terjadi kebijakan pajak terhadap input tradabel usahatani padi sawah pada musim kemarau, hal ini ditunjukkan dengan divergensi input tradable sebesar Rp 167.907,63. Dari hasil analisis mendalam diketahui bahwa pajak dari pemerintah tersebut diterima petani terhadap input tradabel seperti pupuk ZA, NPK Phonska, pupuk organik dan pestisida. Sedangkan input tradabel lainnya berupa benih, urea dan SP-36 diterima petani sebagai subsidi. Sebaliknya divergensi input tradabel pada musim hujan sebesar - Rp 88.217,63 (negatif), menunjukkan adanya kebijakan subsidi. Hal ini berarti bahwa usahatani padi sawah pada musim hujan di Kabupaten Tabanan menerima subsidi input. Subsidi input dari pemerintah yang diterima petani pada usahatani padi sawah pada musim hujan adalah benih, pupuk Urea, dan SP-36.
b.      Ternyata petani membayar komponen input tradable usahatani padi sawah pada musim kemarau lebih mahal dari harga sosialnya sebesar 15 %, sebaliknya pada musim hujan petani terproteksi dengan membayar 6 % lebih murah dari harga sosialnya. Hal ini didasarkan pada nilai Nominal Protection Coefficient on Input (NPCI) usaha tani padi sawah di musim kemarau dan musim hujan masing-masing bernilai 1,15 dan 0,94.
c.       Usahatani padi sawah baik musim kemarau maupun musim hujan sama-sama menerima insentif positif dari pemerintah. Besarnya insentif positif (nilai tambah) dari usahatani padi pada musim kemarau adalah 143 % dari nilai tambah pasar persaingan sempurna, sedangkan usahatani padi sawah pada musim hujan sebesar 125 %. Hal ini didasarkan pada nilai EPC usaha tani padi sawah pada musim kemarau dan musim hujan masing-masing bernilai 1,43 dan 1,25.
Implikasi Kebijakan adalah penurunan subsidi pupuk urea, SP-36, ZA, dan NPK Phonska hingga menjadi 0 % dengan asumsi tingkat suku bunga nominal per tahun tetap 21,60 %, laju inflasi per tahun tetap 5,3 % dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika menguat atau berkisar Rp 8.500,00/US$ hingga Rp 9.250,00/US$ menyebabkan usahatani padi sawah di Kabupaten Tabanan baik pada musim kemarau maupun musim hujan masih tetap memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif. Bahkan penurunan subsidi pupuk di atas, menyebabkan baik petani maupun sistem komoditas masih menerima insentif (proteksi) dari pemerintah, dan masih memperoleh keuntungan privat yang lebih besar dari keuntungan ekonomisnya.
Hasil analisis menunjukkan bahwa usahatani padi sawah di Kabupaten Tabanan layak untuk terus dikembangkan, namun penurunan produktivitas gabah hingga 20 % akan menyebabkan melemahnya keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif dari usahatani padi sawah tersebut, oleh karena itu diperlukan adanya perbaikan teknologi budidaya padi sawah, penggunaan benih bermutu, dan melaksanakan prinsip pengendalian hama terpadu.

Jumat, 04 Mei 2012

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS JAMBU METE DI KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI


Kendati jambu mete tergolong dalam komoditas unggulan, namun dalam kenyataannya tidak bisa dihindari terhadap guncangan pasar, yang akhirnya pelaku utama yang terlibat dalam pengusahaannya hampir selalu berada pada posisi yang kurang diuntungkan akibat tekanan dan ketidaksesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan.
Sejalan dengan liberalisasi perdagangan yang membawa implikasi semakin ketatnya persaingan pasar, diperlukan peningkatan efisiensi dalam upaya peningkatan daya saing. Di sisi lain, antisipasi terhadap kontinuitas pasokan produk baik dalam jumlah maupun mutu sesuai preferensi konsumen dan ketepatan waktu penyediaan, juga merupakan unsur prioritas untuk dapat bersaing di pasar dunia. Namun liberalisasi perdagangan juga menimbulkan masalah jika komoditas yang diproduksi tidak mampu bersaing dengan negara lain.
Karena itu, untuk dapat mengestimasi dengan tepat terhadap keunggulan komoditas jambu mete di Kabupaten Karangasem, maka diperlukan suatu penilaian ekonomi. Keunggulan tersebut dapat dinilai dari aspek keuntungan usaha tani (private profit) dan keuntungan usaha tani di tingkat pasar internasional (social profit), serta peluang investasi yang ada.
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi posisi komoditas unggulan jambu mete di pasar internasional dan menyusun rencana aksi untuk pengembangan komoditas unggulan di Kabupaten Karangasem. Namun secara khusus untuk mengkaji keuntungan dari kegiatan usahatani komoditas unggulan jambu mete, mengkaji daya saing komoditas unggulan jambu mete di pasar internasional dan mengkaji divergensi dan dampak kebijakan (distorsi pasar) pada input dan output dari komoditas unggulan jambu mete.
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karangasem dengan lokasi penelitian, di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu pada tahun 2011. Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan metode purposive sampling, sedangkan pemilihan petani sebanyak 25 orang dilakukan secara acak. Analisis data dilakukan dengan menggunakan matriks analisis kebijakan (policy analysis matrix=PAM) Data yang dibutuhkan untuk menghitung profitabilitas privat dan sosial dikumpulkan melalui survei dan dari sumber lain.
Hasil analisis PAM multi period jambu mete selama 18 tahun, menunjukkan bahwa secara privat (finansial) rata-rata total penerimaan (total revenue) petani adalah sebesar Rp 105.108.724,11 per ha dengan total biaya (total cost) sebesar Rp 29.615.806,96 per ha maka keuntungan finansial yang diperoleh sebesar Rp 75.492.917,15 per ha, dengan nilai PBCR sebesar 3,55. Sedangkan secara sosial (ekonomi) menunjukkan bahwa rata-rata total penerimaan (total revenue) adalah sebesar Rp 97.506.794,88 per ha dengan total biaya (total cost) sebesar Rp 88.874.519,12 per ha maka keuntungan ekonomi petani dari usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem adalah sebesar Rp 8.632.275,76 per ha.dengan nilai SBCR sebesar 1,10.
Usahatani komoditas jambu mete di Kabupaten Karangasem memiliki daya saing secara internasional, karena besarnya rasio sumberdaya domestik (DRC) yang ditimbulkan lebih kecil dari satu, yaitu sebesar 0,91. Disamping itu juga memiliki daya saing secara finansial, karena rasio biaya privat yang ditimbulkan lebih kecil dari satu, yaitu sebesar 0,24.
Dampak kebijakan pemerintah terhadap sistim komoditas jambu mete di Kabupaten Karangasem adalah sebagai berikut:
a.       Divergensi dalam penerimaan (revenue) sebesar Rp 7.601.929,23 per ha (bernilai positif) disebabkan oleh perbedaan harga privat yang diterima petani dengan harga sosialnya. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat transfer penerimaan dari konsumen kepada produsen (petani) atau konsumen membeli dan produsen (petani) menerima dengan harga yang lebih tinggi dari harga seharusnya. Dari analisis tingkat proteksi terhadap output, nilai NPCO yang dihasilkan adalah 1,08 atau petani menerima harga output (privat) lebih tinggi sebesar 8% dibanding harga paritas impor. Dapat dikatakan bahwa petani jambu mete di Kabupaten Karangasem dalam melakukan usahataninya telah menikmati proteksi atau perlindungan output dari pemerintah.
b.      Divergensi input yang diperdagangkan (tradable) sebesar – Rp 419.039,08 per ha. Itu berarti terdapat kebijakan yang menghasilkan harga privat yang lebih rendah atau petani sebagai konsumen membayar harga input secara keseluruhan lebih murah daripada harga sosialnya (pasar internasional). Dapat dikatakan nilai negatif pada divergensi input tradabel menunjukkan adanya kebijakan subsidi.
c.       Divergensi faktor domestik pada usahatani komoditas jambu mete menunjukkan nilai negatif, atau sebesar – Rp 58.839.673,09 per ha. Nilai divergensi faktor domestik yang negatif menunjukkan adanya kebijakan subsidi dari pemerintah.
d.      Divergensi keuntungan bersih (net profit) usahatani jambu mete sebesar Rp 66.860.641,39 per ha. Nilai divergensi keuntungan bersih (net profit) yang positif, berarti bahwa terdapat kebijakan insentif pada usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem, membuat surplus pada produsen (petani) bertambah atau kebijakan insentif membuat usahatani jambu mete menjadi efisien.
e.       Analisis effective protection coefficient (EPC) bernilai 1,09 atau lebih besar dari satu. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tambah privat lebih besar dari nilai tambah sosial, atau terdapat insentif positif dari pemerintah pada sistem komoditas tersebut. Besarnya proteksi yang diterima petani dan sistem komoditas jambu mete di Kabupaten Karangasem adalah sebesar 9%. Itu berarti adanya kebijakan terhadap output dan input secara keseluruhan menguntungkan petani dan sistem komoditas.
f.       Nilai PC usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem adalah 8,75. Nilai ini menunjukkan keuntungan privat (finansial) yang jauh lebih besar, yaitu lebih dari 8,75 kali lipat dari keuntungan sosial (ekonomis). Berdasarkan nilai PC ini dapat dikatakan bahwa secara keseluruhan berbagai kebijakan pemerintah yang diterapkan pada usahatani jambu mete mengakibatkan keuntungan bertambah.
g.      Subsidy ratio to producers (SRP) adalah ukuran dari gabungan seluruh transfer effects yang terjadi. Hasil analisis diperoleh nilai SRP sebesar 0,69. Itu berarti divergensi antara keuntungan finansial dan ekonomi pada usahatani jambu mete sekitar 69% dari pendapatan kotor (gross profit). Besarnya transfer positif (positive transfers) di atas menunjukkan bahwa secara umum kebijakan pemerintah atau distorsi pasar yang ada memberikan dampak yang menguntungkan bagi petani jambu mete, karena petani jambu mete menerima subsidi positif dibandingkan jika tidak ada kebijakan pemerintah.
Usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem akan mencapai titik impas, ketika harga mete gelondongan kering internasional sebesar Rp 4.902,28 per kg. Sedangkan, harga mete gelondongan kering internasional yang diterima petani pada periode penelitian adalah sebesar Rp 10.204,43 per kg lebih tinggi dari titik impas. Tingginya harga mete gelondongan kering internasional ini, mencerminkan risk premium yang ditanggung oleh importir jauh di atas titik impas dan menunjukkan tingginya keuntungan ekonomi yang diterima petani.
Jika harga bayangan output turun sebesar 20 % sehingga harga bayangan menjadi Rp 8.103,54 per kg mete gelondongan kering. Pada kondisi ini usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem masih tetap memiliki daya saing pada nilai finansial (keunggulan kompetitif), namun sudah tidak lagi memiliki keunggulan komparatif (daya saing pada nilai ekonomi), karena nilai DRC meningkat menjadi 1,16.
Jika biaya transportasi naik sebesar 25 % sebagai dampak kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), menyebabkan nilai PCR dan DRC lebih kecil dari satu. Keadaan ini menunjukkan bahwa usahatani jambu mete masih tetap memiliki daya saing pada nilai finansial (keunggulan kompetitif) dan ekonomi (keunggulan komparatif). Namun tingkat daya saing pada nilai ekonomi (keunggulan komparatif) semakin melemah dibandingkan sebelumnya, karena nilai DRC meningkat menjadi 0,95.
Jika produktivitas mete gelondongan kering turun sebesar 20 % akan meningkatkan nilai PCR, DRC dan SRP. Itu berarti bahwa usahatani jambu mete masih tetap memiliki daya saing pada nilai finansial (keunggulan kompetitif) karena nilai PCR masih < 1. Namun tingkat daya saing pada nilai finansial (keunggulan kompetitif) tersebut semakin melemah dibandingkan sebelumnya, karena nilai PCR meningkat menjadi 0,30. Sebaliknya penurunan produktivitas mete gelondongan kering sebesar 20 % menyebabkan hilangnya tingkat daya saing pada nilai ekonomi (keunggulan komparatif), karena nilai DRC meningkat menjadi 1,15.
Perubahan nilai tukar rupiah pada interval Rp 8.500,00 per $ US sampai dengan Rp 10.000,00 per $ US, menyebabkan sistim usahatani komoditas jambu mete di Kabupaten Karangasem tetap memiliki daya saing secara finansial dan daya saing secara ekonomi. Ada kecenderungan semakin menguatnya nilai tukar rupiah (apresiasi) semakin kuat daya saing pada nilai ekonomi (keunggulan komparatif).
Oleh karena hasil analisis menunjukkan bahwa nilai PCR (0,24 ) lebih kecil dari nilai DRC (0,91), maka usahatani komoditas jambu mete di Kabupaten Karangasem sebenarnya masih tetap memerlukan campur tangan pemerintah untuk menunjang daya saing pada nilai ekonomi (internasional). Kebijakan pemerintah yang sesuai dengan ketentuan WTO antara lain berupa tarifikasi dan akses pasar tanpa mengurangi perlindungan terhadap petani. 
Hasil analisis menunjukkan bahwa usahatani komoditas jambu mete di Kabupaten Karangasem layak untuk terus dikembangkan, namun penurunan produktivitas mete gelondongan kering hingga 20 % akan menyebabkan melemahnya daya saing pada nilai finansial dan hilangnya daya saing pada nilai ekonomi, oleh karena itu diperlukan adanya pemeliharaan tanaman jambu mete secara baik dan upaya perbaikan teknologi budidaya tanaman jambu mete.